Apindo Curiga Greepeace Bermain untuk Agenda Asing


JAKARTA- Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) curiga pengusaha asing yang produknya kalah bersaing dengan produk-produk Indonesia memanfaatkan LSM Greenpeace untuk melakukan black campaign guna menjatuhkan produk dalam negeri.

Untuk itu, Apindo meminta pemerintah serta para pengusaha mewaspadai LSM asing tersebut. Desakan Apindo disampaikan Ketua Umum Apindo Sofyan Wanandi melalui siaran pers di Jakarta, Kamis (14/10/2010), setelah mendapat kabar kapal Greenpeace, Rainbow Warrior, akan mendarat ke pelabuhan Tajung Priok, Jakarta.

Apalagi, momentum ini berbarengan dengan terjadinya penolakan produk-produk Indonesia, seperti Indomie, crude palm oil (CPO), gula merah, dan kembang gula, oleh beberapa negara dan perusahaan asing.

Menurut Sofyan, misi yang diusung Greenpeace dengan membawa kapalnya ke Indonesia sama sekali tidak menguntungkan bagi Indonesia. Bahkan, rencana kedatangan kapal tersebut ditengarai sebagai bagian dari upaya melemahkan perekonomian nasional dan merendahkan harkat martabat bangsa Indonesia di mata internasional.

“Yang pasti, kapal itu hanya mengganggu saja. Tidak ada keuntungan yang diperoleh,” ujarnya.

Soyfan mempertanyakan kenapa kapal milik Greenpeace justru berlabuh di Indonesia. “Kalau untuk membela kepentingan rakyat, rakyat yang mana dibela Greenpeace? Justru pengusaha yang paling banyak memberikan lapangan kerja,” tambah dia.

Sofyan menjelaskan, isu kerusakan lingkungan yang gencar dikampanyekan Greenpeace selama ini hanya akal-akalan saja guna menyerang negara berkembang seperti Indonesia. Dia menduga, Greenpeace dibiayai pengusaha asing untuk mematikan industri nasional.

“Pengusaha asing tidak mampu bersaing dengan pengusaha nasional sehingga mereka membayar Greenpeace untuk membuat kekacauan di Indonesia,” tandasnya.

Tak hanya itu, Sofyan juga mengaku heran kenapa hanya Indonesia saja yang ditekan mengurangi emisi karbon. Sementara Malaysia dan negara-negara maju seperti Amerika dibiarkan begitu saja.

“Kalau mau jujur, Malaysia aman-aman saja dari Greenpeace. Negara maju seperti Amerika juga aman. Padahal, negara-negara maju itu yang paling banyak menghasilkan emisi karbon. Bukan Indonesia,” katanya.

Itulah sebabnya, Sofyan meyakini di balik rencana kedatangan kapal Greenpeace ke Indonesia sudah pasti mengusung agenda terselubung. Untuk itu, dia meminta ketegasan pemerintah untuk bertindak cepat.

“Kapal itu hanya mengganggu saja, dan tidak perlu. Pemerintah harus tegas menolak kedatangan kapal itu,” Sofyan menegaskan. Ia juga meminta agar pemerintah terus mengawasi gerak-gerik Greenpeace di Indonesia.(ful)