Miliuner Rusia Sahabat Facebook


INILAH.COM, Jakarta - Yuri Milner hanya memiliki 50 teman di Facebook. Dari sedikit teman itu CEO Mark Zuckerberg adalah salah satunya.

Mereka bertemu beberapa tahun lalu saat Zuckerberg sedang mempelajari jejaring sosial Rusia yang sebagian besar dimiliki Milner. Pada 2009, Zuckerberg menjual 2% saham Facebook senilai US$200 juta (Rp1,8 triliun). Saat itu, banyak orang dalam Silicon Valley menyebut bahwa investasi ini sangat bodoh. Namun, Zuckerberg tahu lebih baik.

Milner dan mitranya, Gregory Finger, mengembangkan Digital Sky Technologies (DST) dari sebuah perusahaan investasi kecil di Rusia menjadi sebuah perusahaan induk yang mengontrol 75% bisnis di situs berbahasa Rusia.

Karena pasar online Rusia jauh lebih kuat daripada di Amerika Serikat, perusahaan DST ini telah menemukan cara untuk menciptakan uang dari usaha yang tidak pernah dicoba perusahaan AS.

"Saya berbincang dengan sekelompok orang yang memiliki cara pandang berbeda. Milner tampak cerdas dan memiliki pengetahuan mendalam soal apa yang kita lakukan," kata Zuckerberg seperti dikutip dari Fortune.

Mereka akhirnya membuat keputusan. Milner yang berusia 48 tahun ini memberikan investasi di Facebook. Lalu, 16 bulan kemudian, Milner telah memiliki saham senilai US$1,3 miliar (Rp11,8 triliun) di perusahaan internet Amerika.

Dia bahkan telah meningkatkan saham di Facebook lebih dari US$800 juta (Rp7,2 triliun) atau sekitar 10%. Ini membuat DST merupakan investor kedua terbesar di Facebook setelah Accel.

Rusia memang memberikan pesona besar bagi perusahaan teknologi tinggi di AS. Negara ini ingin memiliki kesempatan dalam proses diversifikasi bidang ekonomi yang awalnya bergantung pada minyak. Rusia bahkan berencana menciptakan kota inovasi seperti Silicon Valley di Moskow Selatan. Milner menjadi salah satu pengembang teknologi dalam penetrasi broadband.

Milner dan Finger meluncurkan DST sebagai perusahaan yang beroperasi di 2005. Investor pertama DST termasuk Goldman Sachs dan Tiger Global. Tahun lalu, Milner memulai sebuah perusahaan kedua di bawah payung DST yaitu DST Global yang bertugas mendanai kesepakatan internasional.

Zuckerberg begitu tertarik dengan pengalaman dan intelektualitas Milner. Pria ini sempat menawarkan karyanya di Asia di mana internet juga tengah berkembang. Rusia sendiri tidak punya pasar periklanan online yang begitu besar, sehingga perusahaan DST meraup banyak keuntungan dalam kurun dekade terakhir melalui sistem micropayment dan pasar virtual yang kuat.

Sejak Milner menanamkan investasi di Facebook, pria ini semakin berpengaruh. Zuckerberg bertemu dengan Milner sekali dalam sebulan untuk memikirkan cara baru pemanfaatan Facebook Kredit, suatu sistem mata uang virtual yang dapat bernilai bagi 20-30% pendapatan perusahaan.

Zuckerberg juga berkonsultasi dengan Milner soal bagaimana mereka seharusnya mengembangkan diri di Rusia. "Ini cukup mudah untuk berasumsi bahwa situasi terbaru adalah kita harus tahu jalan apa yang kita lalui. Milner tahu soal ini. Dia memahami sistem, karena ia memiliki andil besar dalam membantu kita."

Di Amerika Serikat, mesin pencari memungkinkan organisasi membuat gambaran apa yang dibutuhkan seseorang atas informasi terbaru. Di sisi lain, banyak jejaring sosial Rusia yang tidak menyediakan informasi mereka ke mesin pencari dan mereka memanfaatkannya sediri. [ito/mdr]