Ketika Bilqis Menginspirasi Sebuah Buku...


JAKARTA, KOMPAS.com — Masih ingat Bilqis Anindya Passa? Bilqis adalah bocah penderita atresia bilier yang akhirnya meninggal pada usia dua tahun, awal April lalu.

Atresia bilier tergolong kelainan bawaan lahir yang baru diketahui di Indonesia. Bahkan, konon belum ada obat untuk menyembuhkannya selain operasi cangkok hati yang seharusnya dilakukaan saat anak di bawah usia dua bulan.

Meski Bilqis telah tiada, kehadirannya menginspirasi ibunya, Dewi Farida, untuk berbagi melalui sebuah buku. Dewi menuangkan pengalamannya saat mendampingi putri keduanya ini dalam buku berjudul Ketika Bilqis Harus Cangkok Hati.

"Bilqis banyak memberikan inspirasi tentang arti kehidupan," ungkapnya dalam peluncuran buku dan Yayasan Bilqis Sehati di Auditorium J Leimena Kementerian Kesehatan, Kamis (16/9/2010).

Melalui buku ini, Dewi berharap dapat berbagi informasi mengenai atresia bilier kepada para orangtua yang anaknya mengidap kelainan ini. Ketika Bilqis Harus Cangkok Hati sarat dengan informasi tentang gejala-gejala kelainan tersebut serta langkah dan antisipasi yang harus dilakukan orangtua.

Selain itu, Dewi berbagi juga mengenai motivasi kepada para orangtua dalam merawat anak-anaknya yang menderita kelainan ini.

"Jujur saja, ketika merawat Bilqis, saya tidak sempat ngapa-ngapain lagi, ke mal pun tidak sempat. Kualitas kehidupan dan kesehatan saya pun menurun, begitu juga anak-anak saya yang lain. Orangtua ke depannya harusnya bisa antisipasi," ungkapnya.

Setelah Bilqis pergi, Dewi merasa memiliki tanggung jawab moral untuk berbagi informasi dan pengalaman kepada orangtua lainnya. Pasalnya, jalan penyembuhan satu-satunya hanya melalui cangkok hati. Sementara itu, sering kali orangtua akan mudah merasa terpuruk karena operasi membutuhkan biaya yang sangat mahal.

Hampir semua anak penderita juga akhirnya meninggal karena mahalnya biaya dan minimnya informasi. Untuk itulah Dewi menulis buku ini dan mendirikan Yayasan Bilqis Sehati.