Tuesday, January 24, 2012

Menikmati Libur Imlek yang Singkat


         

              Pada tanggal 23 Januari 2012 bertepatan dengan hari raya Imlek yang kebetulan merupakan hari libur nasional gw bersama Dea bingung juga mau ngabisin hari libur ini kemana di Palembang ini. Sebenernya kita emang ngga ada niat untuk jalan-jalan tapi keadaan yang memaksa kita (hahaha) karena kebetulan di penginapan waktu itu terkena dampak pemadaman listrik oleh PLN.

                Ya iseng sore kita pergi tuh buat cari pempek, tapi setelah keliling-keliling toko pempeknya pada tutup sampai akhirnya kita nemu pempek Selamat yang tetap buka hehe, karena waktu itu udah menjelang malam nanggung lah kalo cari makanan yang rada berat secara tadi baru makan pempek. Akhirnya kita memutuskan untuk jalan-jalan dulu di tepi sungai Musi yang kebetulan terdapat juga benteng Kuto Besak. Nah disini petualangan sebagai wisatawan domestik dimulai hahaha. Oh iya gw mengucapkan Gong Xi Fa Cai kepada teman-teman yang merayakannya.

          
               Seperti dikutip dari id.wikipedia.org Kuto Besak adalah bangunan keraton yang pada abad XVIII menjadi pusat Kesultanan Palembang. Gagasan mendirikan Benteng Kuto Besak diprakarsai oleh Sultan Mahmud Badaruddin I yang memerintah pada tahun 1724-1758 dan pelaksanaan pembangunannya diselesaikan oleh penerusnya yaitu Sultan Mahmud Bahauddin yang memerintah pada tahun 1776-1803. Sultan Mahmud Bahauddin ini adalah seorang tokoh kesultanan Palembang Darussalam yang realistis dan praktis dalam perdagangan internasional, serta seorang agamawan yang menjadikan Palembang sebagai pusat sastra agama di Nusantara. Menandai perannya sebagai sultan, ia pindah dari Keraton Kuto Lamo ke Kuto Besak. Belanda menyebut Kuto Besak sebagai nieuwe keraton alias keraton baru. Benteng ini mulai dibangun pada tahun 1780 dengan arsitek yang tidak diketahui dengan pasti dan pelaksanaan pengawasan pekerjaan dipercayakan pada seorang Tionghoa. Semen perekat bata menggunakan batu kapur yang ada di daerah pedalaman Sungai Ogan ditambah dengan putih telur. Waktu yang dipergunakan untuk membangun Kuto Besak ini kurang lebih 17 tahun. Keraton ini ditempati secara resmi pada hari Senin pada tanggal 21 Februari 1797.




 
          Setelah itu kita juga sempat berjalan di tepi sungai Musi yang sangat ramai oleh masyarakat Palembang mungkin seperti keramain di Monas ya. Di tepi sini banyak orang berdagang mainan, kalung, sampai makan di atas perahu. Dari sini juga kita bisa melihat kemegahan jembatan Ampera yang terkenal itu dengan megahnya. Lagi-lagi momen ini ngga kita sia-siain untuk berfoto sejenak hehe.






 
           Nah kalo ini mungkin rada ngga penting yaa.. waktu kita masih di depan benteng Kuto Besak kita ngelihat gerobak lagi nganggur hehe. Nah gerobak ini deh yang kita isengin buat jadi objek keisengen gw & Dea.



 
           Setelah asyik bermain dengan gerobak lanjut deh kita cari tempat foto yang lain hahaha (benar-benar ngga ada kerjaan). Tujuan kita selanjutnya yaitu kantor walikota Palembang, di kantor  walikota ini sendiri ini berdiri megah dengan diatasnya ada lampu sorot yang berputar-putar. Menambah rasa ingin mengabadikan momen tersebut.




 
           Setelah asyik foto di dekat kantor walikota Palembang muncul keisengan foto di halte bus yang lagi kosong hehe. Nah difoto-foto ini kami tersadar bahwa bakat jadi model sebenarnya ada di gw hahaha. Kapan lagi foto-foto di halte bus & tangga setengah jadi kaya gini. mumpung lagi sepi :p











 
          Nah ini perjalanan terakhir malam ini yaitu Masjid Agung Palembang. Berfoto di tengah air mancur dengan latar belakang Masjid Agung Palembang ini ngga bisa terlalu lama, karena kebetulan pada saat itu hujan mulai turun, jadi buru-buru deh fotonya. Yah kegiatan malam ini lumayan mengisi libur yang singkat ini :)