KOMPAS.com - Negara-negara Arab masih "memble" menghadapi Israel. Kegagalan memaksa Badan Pengawas Nuklir PBB (IAEA) untuk menegur Israel yang terkesan menutup-nutupi program nuklirnya menjadi potret tersebut.
Sebagaimana warta media AP dan AFP, Sabtu (25/9/2010), adalah pertemuan 151 negara anggota IAEA di Wina, Swiss. Lima puluh satu negara menolak dikeluarkannya resolusi berjudul "Kemampuan Nuklir Israel". Lalu, 46 negara mendukung. Sedangkan, 23 negara abstain dan sisanya tidak ikut memberi suara.
Seorang pejabat senior Amerika Serikat (AS) mengatakan bahwa pemungutan suara itu penting dalam konteks meneruskan pembicaraan perdamaian antara Israel dan Palestina dan untuk mendukung rencana dukungan Amerika untuk mengadakan sebuah konferensi besar dua tahun mendatang mengenai kawasan Timur Tengah yang bebas nuklir.
"Hal ini memberikan kesempatan bergerak menuju Timur Tengah yang bebas senjata pemusnah massal begitu perdamaian dicapai," kata kepala juru runding Washington di IAEA Glyn Davies.
Sebelum pemungutan suara Amerika dan sekutu-sekutu Israel lain bersikeras mengatakan bahwa bila diloloskan, resolusi itu akan mengganggu pembicaraan perdamaian dan konferensi Timur Tengah bebas nuklir, argumen yang disangkal oleh negara-negara Islam dan para pendukung lain resolusi itu.
Mereka mengatakan resolusi tersebut justru akan mempercepat terbentuknya kawasan Timur Tengah bebas nuklir.
Kepala juru runding Iran Ali Asghar Soltanieh, yang negaranya mendukung resolusi itu, mengklaim kemenangan, walaupun resolusi akhirnya ditolak."Ini merupakan kegagalan besar kebijakan luar negeri Amerika," kata Soltanieh.
Dia mengatakan pemungutan suara dan kekalahan tipis itu tetap merupakan tekanan besar bagi