Smart Card Siap Gantikan ID Konvensional


Jakarta - Dalam lima tahun mendatang, Indonesia, beserta negara lainnya di Asia, seperti India, China, Filipina, dan Vietnam, akan mengimplementasikan paspor elektronik (e-passport) yang menggunakan teknologi contactless smart card.

Itu merupakan salah contoh yang dikemukakan lembaga riset Frost & Sullivan (F&S), bahwa di masa depan, semua tanda pengenal (ID card) serta alat pembayaran konvensional akan beralih menggunakan kartu cerdas (smart card), khususnya yang bersifat nirkontak (contactless).

Saat ini, masih menurut F&S, proyek pengadaan kartu ID di sektor pemerintah masih merupakan pengguna contactless card terbesar saat ini dengan persentase sekitar 66% pada 2009 lalu. Jumlah ini masih akan berlanjut pertumbuhannya dalam lima tahun ke depan di mana semakin banyaknya negara yang mengadaptasikan teknologi nirkontak ini.

Seperti diproyeksi F&S, permintaan pasar akan contactless card ini akan mulai booming 2012 mendatang di Asia. Dan pada akhir 2016, diperkirakan ada 1,9 miliar unit kartu nirkontak yang dikapalkan ke Asia Pasifik, naik dari sekitar 590 juta pada tahun 2009 lalu.

Selain untuk e-Passport, tumbuhnya lonjakan permintaan untuk contactless smart card akan dipicu oleh proyek NFC (Near Field Communication) dan proyek MRT (Mass Rapid Transport) yang sedang diimplementasikan di seluruh dunia, khususnya di kawasan Asia Pasifik. Selain itu, kartu nirkontak ini juga akan digunakan untuk kartu kredit dan kartu debit.

"Perlu diingat juga bahwa e-Passport perlu diperbaharui setiap lima hingga sepuluh tahun," jelas F&S Country Director Indonesia, Eugene van de Weerd, dalam keterangannya di Jakarta, Selasa (14/9/2010).

Tahun 2009 lalu, pasar kartu cerdas smart card (contact dan contactless) diprediksi mencapai US$ 1.94 juta. Berdasarkan data unit yang dikapalkan, contactless masih terhitung hanya 23% dari total pengiriman. Nilai pasarnya sendiri hanya bernilai US$ 775 juta.

Ke depan, dengan booming-nya permintaan untuk contactless smart card, permintaan pasar akan kartu nirkontak ini diproyeksi terus meningkat menjadi separuh dari total pengiriman smart card pada 2016.

Eugene memprediksi sektor contactless smart card di kawasan Asia Pasifik akan menghasilkan pendapatan sebesar US$ 2 miliar pada tahun 2016, dengan angka pertumbuhan permintaan per tahun atau CAGR (Compound Annual Growth Rate) rata-rata 13% dari 2009 hingga 2016.