Mereka Juga Cinta Indonesia

JAKARTA, KOMPAS.com — Meski  menjadi penyandang tunagrahita, para atlet ini memiliki keinginan besar untuk mengibarkan bendera Merah Putih di ajang Special Olympics di Athena,Yunani.
"Namun bisa saja ia tiba-tiba marah dan mengeluarkan ancaman,Pak Harison jahat dan saya akan laporkan ke polisi."
Hari-hari pelatih Harison Sirait diisi dengan  kegiatan yang membutuhkan ekstrakesabaran. Ia tengah mempersiapkan enam atlet renang yang kini tergabung dalam kontingen Indonesia yang dikirim ke ajang Special Olympics World Summer Games di Athena, Yunani, pada 25 Juni hingga 4 Juli mendatang.
Keenam atlet renang itu, yaitu Daniel, Christian Sitompul, Aswin Nugroho, Stephanie, Fitriani, dan Maesaroh, menjadi bagian dari 46 atlet Indonesia yang akan berpartisipasi di beberapa cabang seperti sepak bola, atletik, bochee, bulu tangkis dan tenis meja, serta bowling.
"Enam atlet ini datang dari berbagai daerah, seperti  Sulawaesi Tengah, Jawa Barat, dan Jawa Tengah. Mereka telah mengikuti seleksi sejak pelaksanaan Pornas tahun lalu," kata Harison Sirait yang memang  memilih spesialisasi menjadi pelatih olahraga untuk atlet tunagrahita. "Mereka menjalani pemusatan latihan di daerah mereka masing-masing selama 5 bulan dan kemudian mengikuti pemusatan latihan nasional (pelatnas) selama satu bulan," ungkap Harison.
Selama pelatnas di Jakarta, para atlet renang ini menginap dan berlatih di pusat olahraga di Ragunan. "Mereka berlatih setiap hari dua kali antara pukul 8-10 pagi dan sore hari pada pukul 14-16," kata Harison lagi.
Para atlet penyandang tunagrahita ini mempersiapkan diri tak ubahnya dengan sesama atlet nasional yang tengah mempersiapkan diri menghadapi ajang SEA Games di Palembang dan Jakarta, November mendatang. Mereka melahap porsi latihan  renang di kolam pada pagi hari dan  mempersiapkan fisk mereka di gym pada sore hari.
Meski telah lebih dari sepuluh tahun berkecimpung dengan para atlet tunagrahita, Harison mengakui bahwa setiap atlet adalah unik dan harus dihadapi dengan cara yang berbeda-beda. "Kunci utamanya adalah kesabaran," kata Harison. Baru kemudian ia mencoba mengendalikan setiap atlet sesuai karakter dan tingkat kedewasaan mereka masing-masing. "Tingkat kedewasaan ini yang membantu mereka cepat mengendalikan diri," kata Harison.
Situasi tidak menentu memang bida muncul setiap saat.  Menurut Harison, seperti yang terjadi pada Christian. Atlet renang ini mampu melahap porsi latihan dengan mudah bila dalam kondisi stabil. Namun, suatu saat ia baru menerima telepon dari kerabatnya. "Tiba-tiba ia mengamuk dengan membanting semua barang-barang miliknya dan memaki-maki," kata Harison. "Mungkin ia terserang kangen pada keluarga. Kami hanya menjaga agar ia tidak menyakiti atau melukai diri sendiri dengan menjauhkan barang-barang yang mudah pecah."
Atau seperti yang dilakukan Aswin Nugroho.  Atlet asal Jawa Tengah ini biasa merajuk dengan mencium pelatih-pelatihnya, baik Harison maupun asisten pelatih wanita. "Namun bisa saja ia tiba-tiba marah dan mengeluarkan ancaman,'Pak Harison jahat dan saya akan laporkan ke polisi'," ungkap pelatih lulusan Universitas Negeri Jakarta ini.
Untung saja, di antara  atlet tunagrahita di pelatnas ada beberapa yang memiliki tingkat kedewasaan lebih tinggi dan cukup membantu. Seperti Daniel, perenang asal klub Shark Bandung yang telah berusia 26 tahun. Ia dianggap sebagai kepala suku karena mampu menenangkan temen-temannya sepelatnas bila dalam kondisi  labil.
Daniel sendiri dianggap memiliki kans besar kerana memiliki best time yang cukup baik untuk kategorinya. Di nomor 50 meter gaya bebas, ia memiliki catatan waktu 29 detik, sementara di nomor 50 meter gaya kupu-kupu, waktu terbaiknya adalah 30 detik.
Atau perenang putri Stephanie yang juga memiliki ketenangan di atas rekan-rekannya. Dengan bahasa antarmereka, Stephanie mampu menerjemahkan perintah atau permintaan pihak lain kepada ia dan rekan-rekannya.  Stephanie sendiri memiliki kemampuan lain dengan bermain piano dan pernah tampil di acara talk show Kick Andy.
Tim renang atlet tunagrahita Indonesia ini dibebani target meraup enam medali emas di  Yunani. Harison sendiri optimistis para perenang ini akan mampu memenuhi target tersebut. "Kalau dilihat dari persiapan dan kemampuan, seharusnya mereka mampu memenuhi target ini," ungkap Harison.
Meski memliki "keistimewaan", para atlet itu pun ternyata memiliki keinginan besar untuk mengharumkan nama Indonesia dengan mengalahkan lawan-lawan mereka yang berasal dari seluruh dunia di Yunani.
Seperti yang dicanangkan Daniel saat ditanya soal target di Yunani,
"Daniel, kamu berani melawan atlet Amerika?
"Berani!"
"Kamu berani lawan atlet Inggris?"
"Berani!"
"Kamu berani lawan atlet China?"
"Berani!"
"Kamu berani lawan atlet Tegal?"
"Waaaa....itu di Indonesia....."
"Berani lawan atlet Depok?"
"Waaaa....itu enggak tau di mana...."