Beginilah Rasanya Jadi Gembel di Bandar Udara


ternyata tak hanya menjadi menjadi tempat lalu-lalang para penumpang dan calon penumpang manca negara. Ada pula yang betah tinggal di bandar udara tersibuk di Jepang itu selama lebih dari tiga bulan.

Dia adalah seorang aktivis China bernama Feng Zhenghu. Feng mengaku memilih menginap di Bandara Narita selama berbulan-bulan karena dilarang pulang oleh pemerintah China. Namun, Selasa 2 Februari 2010, dia mengaku sudah mendapat izin untuk pulang ke Tiongkok.

Feng diketahui telah menginap di Narita sejak awal November 2009. Itu merupakan aksi protes Feng setelah mengetahui bahwa dia masuk dalam Daftar Cekal oleh pemerintah China. Artinya, dia tidak boleh pulang.

Rupanya, pria berusia 55 tahun itu sudah membuat marah pemerintah China karena tulisan-tulisannya yang sarat kritik dan mendukung gerakan protes mahasiswa. Selama menginap di Narita, Feng tidak berniat keluar dari bandara.

Namun, kepada para wartawan, Minggu 31 Januari 2010, Feng memutuskan untuk mengakhiri aksi menginap di Bandara Narita setelah pekan lalu bertemu dengan para staf dari Kedutaan Besar China. Namun, hingga Selasa kemarin, Feng belum juga pulang karena belum mendapat kejelasan apakah bisa diperbolehkan masuk ke China.

Feng mengaku sejak Juni tahun lalu sudah delapan kali ditolak kembali ke China. Dia mengaku terakhir kali memaksakan diri untuk pulang ke Shanghai di awal November 2009. Namun, begitu sampai di Bandar Udara Pudong, Feng tidak mendapat izin masuk. Dia justru dikirim kembali ke Tokyo pada 4 November 2009.

Penolakan berkali-kali itulah yang membuat Feng kesal sehingga akhirnya dia memutuskan menginap di dalam Bandara Narita. Paspor China yang Feng pegang masih berlaku dan dia masih punya izin masuk (visa) ke Jepang. Namun, Feng menolak melewati konter pemeriksaan imigrasi.

Pihak keamanan Jepang pun tak berkutik karena Feng tidak bisa diusir dari bandara selama dia tidak melanggar hukum. Selama menginap di Narita, Feng menyibukkan diri dengan komputer laptopnya dan sering berkomunikasi dengan para pendukungnya melalui telepon genggam. Dia rajin mengisi blog di internet serta aktif di laman-laman jejaring sosial, seperti Twitter, untuk mengabarkan kisahnya.

Namun, Feng mengaku kini sudah mendapat lampu hijau dari China untuk bisa pulang. "Pejabat China bilang bahwa mereka sudah memberi izin kepada saya untuk kembali ke Shanghai," kata Feng kepada para wartawan.

Rencananya, dia akan masuk ke Jepang terlebih dahulu, Rabu 3 Februari 2010, sebelum akhirnya bertolak ke Shanghai.

Dia memang ingin sekali bisa pulang kampung demi merayakan Imlek (Tahun Baru China), yang akan berlangsung pada pertengahan Februari. "Saya tidak akan ditolak lagi. Itu bakal tidak mungkin," kata Feng.

Sementara itu, kelompok pembela hak asasi manusia (HAM) Amnesty International menyebut Feng - yang pernah dipenjara oleh pemerintah China selama tiga tahun - sebagai pejuang HAM yang gigih.

Menghuni Bandara Narita selama berbulan-bulan membuat Feng menjadi terkenal. Kalangan penggemar film menyamakan aksi Feng itu mirip dengan kisah yang diperankan oleh bintang Hollywood, Tom Hanks, dalam film berjudul "The Terminal." Di film itu, Hanks berperan sebagai orang yang terjebak di sebuah bandar udara karena sudah berstatus tidak memiliki kewarganegaraan (stateless person).

Selama menginap, Feng mengandalkan bantuan makanan dan minuman dari para penumpang maupun calon penumpang pesawat. Pasalnya, dia tidak bisa keluar dari ruang di dekat pemeriksaan imigrasi, yang tidak dilengkapi dengan mesin penjual makanan dan letaknya jauh dari kantin.

Untuk bersih-bersih, Feng pun hanya bisa cuci muka di wastafel toilet.

Begitu mendapat izin pulang, Feng mengaku akan merasa kangen dengan tempat yang dia huni selama lebih dari 90 hari. Apa yang akan dia lakukan pertama kali bila sampai di rumah? "Saya langsung mandi. Itulah yang ingin segera saya lakukan begitu pergi dari sini," kata Feng. (AP)
• VIVAnews