ZINE El Abidine Ben Ali menguasai Tunisia selama 23 tahun tapi sekarang dia tumbang. Hosni Mubarak memerintah Mesir selama hampir 30 tahun, sekarang ia pun tumbang juga. Apakah kediktatoran di dunia Arab dan Timur Tengah memang satu per satu akan rontok? Jika itu yang sedang terjadi, lalu siap korban berikutnya?
"Satu-satunya yang ingin saya sampaikan kepada Anda adalah bahwa angin perubahan sedang melanda Timur Tengah," kata Ketua Liga Arab Amre Moussa, mantan menteri luar negeri Mesir, kepada CNN. "Bagaimana angin itu akan bergerak dan ke mana arahnya, kapan, di mana, saya tidak dalam posisi untuk menilai sejauh mana itu akan terjadi. Namun, menurut saya, angin perubahan itu sudah mulai."
Di tetangga Mesir, Libya, telah muncul di halaman di Facebook pengumuman tentang demonstrasi damai yang dijadwalkan hari Senin. Moammar Gadhafi, yang telah memerintah negara itu selama hampir 40 tahun, beberapa hari lalu masih menegaskan dukungannya terhadap Mubarak.
Di seberang Laut Merah, ribuan orang telah memprotes Presiden Yaman, Ali Abdullah Saleh, yang telah memerintah Yaman selama 32 tahun. Saleh telah berjanji untuk tidak maju lagi dalam pemilihan berikutnya saat masa jabatan yang sekarang ini, yang dimulai tahun 2006, berakhir tahun 2013. Di Jordania, Raja Abdullah II telah merombak kabinetnya minggu lalu. Minggu ini ia memasukan beberapa tokoh oposisi dan media ke dalam kabinet barunya yang dipimpin seorang pensiunan jenderal.
Namun para pengamat memperingatkan untuk tidak terlalu berharap banyak pada "angin perubahan" itu. "Apa kesamaan antara Tunisia dan Mesir? Militer membuat keputusan untuk tidak melakukan intervensi," kata Jamie Rubin, seorang diplomat Departemen Luar Negeri AS pada eran mantan Presiden Bill Clinton sebagaimana dikutip CNN. "Anda lihat Iran, dan kita melihat sejumlah besar orang turun ke jalan, beberapa waktu lalu. Namun pihak keamanan siap untuk membunuh mereka, menangkap mereka, menempatkan mereka ke dalam penjara. Dan jika Anda pergi ke Suriah, Anda akan melihat rejim militer yang di masa lalu bersiap untuk melakukan pembunuhan massal. Jadi, kita harus membuat perbedaan-perbedaan di sini."
"Mereka membuat keputusan untuk campur tangan, tetapi tidak dengan kekerasan," kata Rubin tentang kondisi yang terjadi di Tunisia dan Mesir. "Mereka membuat keputusan untuk membiarkan revolusi terjadi dan tidak menopang status quo. Keputusan mereka untuk tidak menggunakan kekuatan terhadap rakyat memungkin orang untuk menerobos hambatan rasa takut."
Fouad Ajami, seorang ilmuwan kelahiran Lebanon dan ahli masalah Timur Tengah, mengatakan, orang-orang di kawasan itu selama puluhan tahun telah kehilangan kekaguman dan ketakutannya kepada pemerintahnya. "Lihatlah episode-episode yang ada. Ada sebuah lubang laba-laba. Saddam Hussein keluar dari lubang laba-laba tahun 2003. Lalu muncul tontonan tentang pengadilannya, kata Ajami.
"Jadi, saya pikir banyak pemerintah Arab yang khawatir. Mereka layak khawatir karena mereka memperlakukan rakyatnya dengan buruk. Mereka menyiksa rakyat. Mereka menjarah uang. Tidak ada kontrak sosial di banyak negara itu. Jadi, saya pikir mereka memang pantas untuk khawatir."
Namun, beberapa dari rejim yang lebih keras bahkan kini telah berbicara tentang perubahan dalam terang protes rakyat yang melanda kawasan itu baru-baru ini. Presiden Aljazair Abdelaziz Bouteflika, yang telah berkuasa selama 12 tahun terakhir, misalnya "dalam waktu dekat" akan mencabut status negara dalam kondisi darurat yang telah berjalan selama hampir 20 tahun," lapor kantor berita negara itu minggu lalu. Langkah ini merupakan salah satu dari beberapa yang dituntut para demonstran dalam protes baru-baru ini terhadap pemerintah. UU itu diterapkan sebagai tindakan keras terhadap partai politik Islam pada tahun 1992.
Presiden Suriah Bashar al-Assad mengambil alih kekuasaan tahun 2000 setelah kematian ayahnya, yang telah memerintah sejak tahun 1971. Dalam sebuah wawancara yang diterbitkan minggu lalu di harian The Wall Street Journal, ia mengatakan bahwa para pemimpin Timur Tengah harus "melihat perlunya reformasi" sebelum protes seperti yang terjadi di Mesir dan Tunisia pecah.
Bagaimanapun, yang terpenting dari efek domino di Timur Tengah dan sebagian Afrika itu adalah, tidak ada yang benar-benar yakin apa yang akan terjadi selanjutnya. Sebelum kepergian Mubarak yang dramatis dan cepat menyusul Ben Ali, banyak ahli bahkan sangat meragukan bahwa Mesir akan mengikuti jejak Tunisia.